Subscribe to RSS Feed
Showing posts with label My Memoars in Agam Cendekia. Show all posts
Showing posts with label My Memoars in Agam Cendekia. Show all posts

Friday, 3 September 2010

Buka bersama di tempat buk sil


Alangkah senangnya kemarin, tanggal 1 September 2010 kumpul untuk buka bersama di rumah buk sil, guru bahasa Indonesia ku tercinta waktu SMA kelas 3. Semalaman aku begadang bercngkrama dengan teman-teman satu angkatan ketika di SMA. Sampai pagi tidak habis-habis untuk tertawa. Di tambah lagi waktu itu pas permainan kejujuran, gelak tawa semuanya pecah akibat tingkah anak-anak yang aneh.


Tuesday, 24 August 2010

A Beautiful Lake, Danau Maninjau..


Maninjau adalah salah satu tempat yang tidak akan pernah aku lupakan. Dengan pemandangan alam yang sangat indah, dan disanalah tempat aku menempuh pendidikan sekolah menengah ku. Dengan Danau Maninjau telah menjadi saksi bisu akan tersimpan kenangan-kenangan ku di SMAN Agam Cendekia. Konon dahulunya dari tempat ini telah lahir para cendekiawan-cendekiawan bangsa, salah satunya adalah Buya HAMKA. Suatu kali aku pernah menemani seorang bule ke tempat museum buya hamka, dimana di dalamnya terdapat banyak buku-buku karya buya HAMKA. Lantas aku tanya saja bule tersebut, "what do you think of this poeple". Lalu bule tersebut menjawab "I think He is a kind of prolific poeple". Bertambah pula satu kosa kata ku dalam bahasa Inggris yaitu prolific, yang artinya seseorang yang memiliki banyak karya tulisan.

Baiklah kawan, ingin sekali aku tuliskan keindahan Danau Maninjau tempat SMA ku dulu, SMAN Agam Cendekia, berada. Dan artinya akupun telah bersentuhan dengan lingkungan dimana dilahirkan seorang Buya HAMKA, berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi orang yang besar seperti beliau.

Kalau ingin menuju SMAN Agam Cendekia dari bukit tinggi pertama kita harus menuju simpang padang lua. Di sana ada bus Harmonis yang akan menuju Lubuuk Basung. Di dalam perjalanan mungkin bagi orang yang tidak biasa melewati rute jalannya, akan sering mual-mual, karena harus melalui tikungan sebanyak 44, atau yang dikenal dengan kelok ampek puluah ampek. Namun, di sepanjang perjalanan tentunya kawan-kawan akan melihat alangkah indahnya pemandangan danau Maninjau dari atas. Apalagi kalau dilihat waktu malam hari. Cahaya lampu yang terang dari keramba-keramba akan menambah keindahan di pinggir-pinggir danau Maninjau kalau dilihat dari atas. Ahh.. mungkin saya tidak bisa menuliskan bagaimana keindahan sekeliling danau maninjau ketika dilihat dari kelok Ampek Puluah Ampek.

Di Danau Maninjau juga terdapat PLTA, yang kalau gak sa,ah untuk pasokan listrik daerah Riau dan Jambi. Konon katanya itu merupakan peninggalan tentara Jepang. Banyak korban yang telah meninggal akibat pembangunan terowong PLTA Danau Maninjau. Namun walaupun begitu saya cukup salut dengan orang Jepang, yang bisa melobangi bukit untuk mengalirkan air untuk membangkitkan generator listrik. Air alirannya mengalir menuju batang antokan.

Tapi sayang, Danau yang dulu kata temanku yang merupakan penduduk asli maninjau sewaktu ia kecil dulu airnya sangat jernih sekarang sudah tercemar akibat sisa pakan ikan keramba. Begitu banyak orang yang membangun keramba sehingga air danau sekarang sudah sangat tercemar. Baliho yang berada di tepi jalan muko-muko di luar pagar di depan Asrama Merapi pun yang bertuliskan surat Ar-rum ayat 41,"

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

(QS Ar-Ruum [30]:41).

hanya menjadi papan yang lusuh.

Mudah-mudahan alam maninjau akan tetap indah seperti dulu.

Monday, 23 August 2010

Di Antara dua Pilihan

Memang segala sesuatu yang terjadi telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Yang perlu kita lakukan adalah tinggal berusaha sebaik mungkin dan berdoa kepada Allah akan hal yang terbaik.

Aku masih ingat sewaktu kelas 3 smp dulu... adalah masa yang paling indah yang pernah aku alami selama berada di SMP Negeri 8 Padang. Waktu satu tahun yang dihabiskan terasa begitu singkat. Tanpa disadari Ujian Akhir Nasional sudah menanti. Setiap siswa mati-matian untuk belajar agar bisa lulus dan mendapatkan SMA yang diinginkan. Dan mungkin ada sebagian siswa yang memang susah untuk memahami pelajaran, menempuh strategi lain dengan cara membangun jaringan. Dan memang WC biasanya dijadikan posko untuk bertransaksi.

Ujian Nasional pun berakhir, aku hanya mengharapkan hasil yang terbaik waktu itu. Selang beberapa waktu setelah ujian, kepala sekolah memanggil ku tanpa ku tau apa sebabnya. Setelah itu Ibu Kepala Sekolah menceritakan kepada saya bahwasanya ada SMA yang didirkan oleh Bpk Menteri Sosial, BAchtiar Chamsyah yang cukup bagus berlokasi di daerah danau Maninjau. Bu Kepala sekolah mengatakan,"Entah kenapa dari sekian banyak siswa, Ibu teringat sama Furqan." Memang informasi ini tidak tertutup kemungkinan untuk orang lain karena pada waktu pembagian hasil ujian hal itu tetap di informasikan di setiap kelas, tapi ada sedikit rasa bangga di dalam diriku karena akulah siswa pertama yang menerima informasi tersebut.

Akhirnya pengumuman hasil Ujian Akhir pun keluar. Dari sekitar 320 siswa alhamdulillah aku mendapat peringkat 16.

Seperti biasa setelah itu para siswa sibuk untuk mendaftarkan diri ke SMA. Waktu itu aku mendaftarkan diri ke SMA 1 Padang, SMA 4 Padang, dan SMA 3 Padang, plus SMAN Agam Cendekia.

Mendaftar ke SMAN Agam Cendekia

Untuk mendafatar ke SMAN Agam Cendekia waktu itu aku harus mendapat rekomendasi dari sekolah, kemudian rekomendasi dari Diknas kota Padang. Waktu menanyakan informasi tersebut kepada diknas ternyata pendafataran di SMA tersebut telah ditutup. Tapi syukur alhamdulillah kebetulan kuota untuk kota Padang waktu itu masih terisi 7 seat, jadi masih ada 3 seat karena seat untuk kota padang ada 10.

Pengumuman

Hasil pengumuman penerimaan di SMA pun keluar, dan aku di terima SMA 1 Padang dan SMAN Agam Cendekia. Mungkin kalau tidak melihat SMAN Agam Cendekia secara langsung, tentu saja aku akan memilih SMAN 1 Padang, karena merupakan SMA terbaik di kota Padang di bandingkan SMAN Agam Cendekia yang belum meluluskan siswa pada waktu itu, karena itu adalah penerimaan ke tiga, artinya sekolah tersebut baru 2 tahun berdiri.

Namun aku tidak serta merta langsung menjatuhkan pilihan pada SMAN Agam Cendekia. Aku telah meminta petunjuk kepada Allah melalui shalat istikharah dan pendapat kedua orang tuaku. Di tambah lagi beasiswa yang di berikan, sehingga tidak perlu membayar sepeser rupiah pun.

Waktu itu memang keputusan yang sulit, karena aku harus meninggalkan teman-teman baikku yang kebanyakan mereka masuk di SMA 1 Padang. Namun sekarang aku pun menyadari inilah keputusan yang tuhan berikan kepadaku, dan tidak pernah sekalipun aku merasa menyesal atas pilihan yang aku jatuhkan.